Tingkatkan Status Kawasan BAS Jadi Suaka Margasatwa

Tingkatkan Status Kawasan BAS Jadi Suaka Margasatwa

Ketua Lingkar Inisiatif Indonesia, Iswadi-RRI-

BENGKULU, RADARUTARA.ID - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut RI), didesak untuk meningkatkan status kawasan Bentang Alam Seblat (BAS) menjadi Suaka Margasatwa.

Langkah ini dinilai sebagai tindakan nyata, terutama untuk meminimalisir potensi ancaman kematian dan konfik antara satwa dengan manusia.

Ketua Lingkar Inisiatif Indonesia, Iswadi mengatakan, kematian dua ekor Gajah Sumatera dan seekor Harimau Sumatera yang terjadi di kawasan hutan negara beberapa waktu lalu, harusnya menjadi alarm serius bagi pemerintah.

"Sehingga dibutuhkan tindakan nyata dan segera, baik dari sisi potensi ancaman kematian dan konflik antara satwa dengan manusia yang cenderung meningkat," ungkap Iswadi.

BACA JUGA:Soroti Kematian Gajah dan Harimau, Koalisi Selamatkan BAS Sindir Operasi Satgas Merah Putih

Menurut Iswadi, tindakan nyata yang bisa dilakukan dengan segera, diantaranya menaikan status kawasan BAS menjadi Suaka Margasatwa. Mengingat kawasan BAS merupakan habitat sejumlah satwa dilindungi.

"Maka dari itu kami mendesak agar pemerintah segera menaikan status kawasan tersebut," tegas Iswadi, Rabu 6 Mei 2026.

Dilanjutkan Iswadi, dengan meningkatkan status kawasan BAS menjadi Suaka Margasatwa, dapat menutup ruang perusakan habitat satwa dilindungi dari korporasi maupun manusia.

"Dengan kata lain, peningkatan status itu dapat menjadi solusi tepat untuk menyelamatkan kawasan BAS, berikut juga sebagai langkah penyelamatan satwa yang dilindungi," kata Iswadi.

Iswadi menjelaskan, secara administratif kawasan BAS membentang dari Sungai Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara, hingga ke Air Majunto di Muko-Muko. Dengan total luas wilayah mencapai 80.978 hektar (Ha).

BACA JUGA:Kematian Gajah dan Harimau di Bengkulu, Koalisi Selamatkan BAS Tuding Satgas dan Gakkum Kehutanan

"Tapi, kondisi hari ini sekitar 61,5 persen kawasannya, tutupan hutannya sudah hilang," sesal Iswadi.

Sementara, sambung Iswadi, kawasan BAS merupakan rumah atau habitat bagi Gajah Sumatera, Harimau Sumatera dan satwa dilindungi lainnya yang tersisa di Provinsi Bengkulu.

"Hilangnya tutupan hutan ditengarai karena banyaknya izin korporasi, ditambah lagi munculnya perkebunan masyarakat akibat buruknya tata kelola korporasi pemegang konsesi," beber Iswadi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: