Kematian Gajah dan Harimau di Bengkulu, Koalisi Selamatkan BAS Tuding Satgas dan Gakkum Kehutanan

Kematian Gajah dan Harimau di Bengkulu, Koalisi Selamatkan BAS Tuding Satgas dan Gakkum Kehutanan

Kematian Satwa Dilindungi, Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera-Radar Utara / Doni Aftarizal-

BENGKULU, RADARUTARA.ID - Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Penegakkan Hukum Kehutanan (Gakkumhut) Sumatera, dituding sebagai dua entitas yang paling bertanggungjawab.

Terutama atas kematian dua ekor Gajah Sumatera dan seekor Harimau Sumatera, yang ditemnukan di kawasan Bentang Alam Seblat (BAS) yang berada di Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko.

Sejak 2018, sedikitnya tujuh Gajah mati di areal konsesi PT. BAT dan PT API tanpa satu pun pelaku terungkap. Pada November 2025, Satgas PKH disebut telah memusnahkan 24 ribu batang sawit ilegal, merobohkan 11 pondok, mengamankan 12 orang, dan memproses 5 tersangka. 

Namun Koalisi Selamatkan BAS menilai, penertiban berjalan setengah hati karena ribuan hektar sawit milik cukong besar masih tegak.

BACA JUGA:Pastikan Kematian Gajah dan Harimau, BKSDA Bengkulu-Lampung Tunggu Hasil Nekropsi

Direktur Hutan Auriga Nusantara, Supintri Yohar mengatakan, Areal sawit ilegal di habitat Gajah sudah diketahui lama, kematian Gajah non-alami terjadi berkali-kali. 

"Seharusnya pemerintah memiliki perencanaan komprehensif, apalagi pasca kunjungan Wamen dan Menteri Kehutanan akhir tahun lalu. Pembukaan hutan masif mengancam gajah yang butuh ruang luas dan aman," ungkap Supin.

Sementara itu, Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar menyatakan, ketidakberanian mencabut PBPH PT. BAT dan PT. API serta ketidakadilan hukum terhadap cukong bakal terus memakan korban. 

"Satgas Merah Putih sedang bekerja, namun bersamaan terjadi kematian tragis terhadap Gajah dan Harimau," sesal Ali.

BACA JUGA:Pastikan Kematian Gajah dan Harimau, BKSDA Bengkulu-Lampung Tunggu Hasil Nekropsi

Direktur Genesis Bengkulu, Egi Saputra menambahkan, penertiban perambah cenderung simbolik dan tak menyasar aktor utama. Dua kali operasi tak cukup jika sawit ilegal masih berdiri. 

"Kematian induk dan anak gajah serta harimau merupakan bukti jelas, jika operasi yang dilakukan untuk menyelamatkan kawasan BAS gagal melindungi habitat," demikian Egi. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: