Hasil Inventaris Bapperinda, Banyak Aset Pertanian Terbengkalai

Hasil Inventaris Bapperinda, Banyak Aset Pertanian Terbengkalai

Bapperinda Mukomuko saat mengecek aset pertanian yang terbengkalai-Radar Utara/ Wahyudi-

MUKOMUKO, RADARUTARA.ID – Kondisi memprihatinkan terungkap dari hasil pengecekan lapangan yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Mukomuko. Sejumlah aset pertanian berupa jaringan irigasi dan sarana pendukung persawahan yang dibangun dengan anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah ditemukan terbengkalai di berbagai desa yang memiliki potensi lahan sawah.

Pengecekan dan inventarisasi tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Bapperida Mukomuko yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Irigasi, Singgih Pramono, MH, di sejumlah titik wilayah persawahan. Kegiatan ini bertujuan memastikan kondisi riil aset pertanian serta mengidentifikasi tingkat pemanfaatannya oleh masyarakat.

Dari hasil peninjauan tersebut, ditemukan fakta bahwa tidak sedikit infrastruktur pertanian yang seharusnya menjadi penopang utama produktivitas petani justru tidak difungsikan secara optimal. Bahkan, beberapa di antaranya dibiarkan rusak dan tidak terurus.

“Kami sebagai perencana sangat miris melihat langsung di lapangan. Aset-aset daerah yang nilainya ratusan juta hingga miliaran rupiah justru terbengkalai di beberapa titik,” tegas Singgih.

Ia menekankan bahwa pembangunan sektor pertanian sejatinya dirancang dengan pendekatan teknologi untuk menekan biaya operasional petani sekaligus meningkatkan hasil produksi. Dengan demikian, dampak akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan petani dan penguatan ekonomi daerah.

Namun, menurutnya, tujuan tersebut tidak akan tercapai jika pembangunan hanya berorientasi pada penyelesaian proyek semata, tanpa memikirkan keberlanjutan dan pemberdayaan.

“Jika pembangunan hanya menggunakan pendekatan proyek, maka nilai pemberdayaan dan keberlanjutan akan berhenti. Inilah yang sedang terjadi sekarang,” ujarnya.

Singgih secara tegas menyerukan agar pola pembangunan seperti itu segera dihentikan. Ia meminta seluruh pihak terkait untuk mulai beralih pada pendekatan yang lebih berkelanjutan dengan memaksimalkan aset yang sudah ada.

“Stop pendekatan pembangunan dengan pola orientasi proyek. Mari kita berdayakan, optimalkan, dan dayagunakan aset-aset yang sudah ada, khususnya yang saat ini mangkrak,” katanya.

Menurutnya, optimalisasi aset pertanian yang telah dibangun akan jauh lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dibandingkan terus-menerus menggelontorkan anggaran untuk proyek baru tanpa evaluasi terhadap hasil sebelumnya.

"Selain berdampak pada petani, pemanfaatan aset secara maksimal juga diyakini mampu mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) melalui sektor pertanian yang lebih produktif dan efisien," pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: