MUKOMUKO, RADARUTARA.ID — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mukomuko, H Widodo, SHI, MAP, menegaskan bahwa nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah SAW sangat relevan untuk menjadi pedoman Aparatur Sipil Negara (ASN), terutama di tengah perubahan zaman, perkembangan teknologi digital, serta meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik.
Menurut Widodo, kepemimpinan di lingkungan pemerintahan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan administratif dan kewenangan jabatan. Lebih dari itu, seorang pemimpin maupun ASN harus mampu membangun kepercayaan masyarakat melalui integritas, tanggung jawab, keteladanan dan kualitas pelayanan.
Ia menilai Rasulullah SAW merupakan sosok pemimpin yang mampu menggabungkan keteguhan moral, kecerdasan, keteladanan dan kemampuan membangun kepercayaan. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk diterapkan dalam tata kelola pemerintahan modern.
“Bagi ASN Kementerian Agama, meneladani kepemimpinan Rasulullah bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi menghidupkan nilai-nilai universal yang tetap relevan untuk menjawab tantangan masa kini,” tegas Widodo.
BACA JUGA:Kemenag Mukomuko Tegaskan Sumbangan Komite Bukan Pungli Jika Sesuai Aturan
Ia menjelaskan, terdapat empat sifat utama Rasulullah SAW yang dapat menjadi fondasi kuat bagi ASN, yakni shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah.
Nilai shiddiq atau kejujuran, menurutnya, harus menjadi dasar dalam setiap tindakan dan pengambilan keputusan. Di tengah era keterbukaan informasi, kejujuran menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Kata dan tindakan ASN harus berada pada garis yang sama. Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan, melainkan melalui perilaku nyata dan konsistensi dalam menjalankan tugas.
Sementara amanah mengandung pesan bahwa jabatan merupakan tanggung jawab dan ruang pengabdian, bukan fasilitas untuk memperoleh keistimewaan pribadi. ASN diberikan mandat untuk memberikan pelayanan terbaik dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
“Jabatan adalah amanah. Karena itu, setiap ASN harus mampu mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan kepadanya. Kepentingan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi,” ujarnya.
BACA JUGA:Kemenag Mukomuko Tegaskan Sumbangan Komite Bukan Pungli Jika Sesuai Aturan
Selanjutnya, nilai tabligh dapat diterapkan melalui komunikasi yang terbuka, santun, inklusif dan penuh empati. Menurut Widodo, masyarakat tidak hanya membutuhkan pelayanan yang cepat, tetapi juga membutuhkan aparatur yang mampu memberikan penjelasan dengan baik dan membangun komunikasi yang sehat.
Hal tersebut semakin penting bagi ASN Kemenag yang berhadapan langsung dengan masyarakat dari berbagai latar belakang agama, budaya dan pandangan. Komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci menjaga kerukunan dan memperkuat persatuan.
Sedangkan fathanah atau kecerdasan menjadi tuntutan yang tidak bisa diabaikan di tengah perkembangan teknologi dan transformasi digital. ASN tidak boleh terjebak dalam pola kerja rutin, tetapi harus mampu beradaptasi, berinovasi dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan pelayanan masyarakat.
“Kecerdasan ASN hari ini bukan hanya soal menguasai informasi, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk menghasilkan solusi dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” jelasnya.