Workshop Ketiga Skrining HCV Mukomuko Pertegas Peta Risiko dan Prioritas Lanskap
Terlihat tim dari multi pihak saat mengikuti workshop ketiga skrining HCV-Radar Utara / Wahyudi-
MUKOMUKO, RADARUTARA ID - Inisiatif lanskap multi pemangku kepentingan di Kabupaten MUKOMUKO terus bergerak dengan arah yang semakin jelas.
Hal itu terlihat dari pelaksanaan workshop ketiga skrining High Conservation Value (HCV) pada 21 April 2026, yang menajamkan proses identifikasi kawasan sensitif sekaligus memperkuat dasar pengambilan keputusan berbasis data.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari dua workshop sebelumnya yang digelar pada 6 dan 9 April 2026.
Pada tahap awal, peserta difokuskan pada pengenalan metodologi skrining HCV, identifikasi risiko awal, serta penyusunan peta indikatif.
Memasuki workshop ketiga, pembahasan bergerak lebih teknis dengan pendalaman hasil sementara dan penyelarasan data lintas sektor.
Workshop diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Mukomuko melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) dengan melibatkan berbagai unsur.
Peserta berasal dari instansi pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, hingga mitra sektor swasta seperti SIPEF, Arconesia, serta High Conservation Value Network (HCVN).
Kepala Bapperida Mukomuko, Singgih Pramono, MH menegaskan bahwa skrining HCV bukan sekadar kegiatan teknis, melainkan bagian penting dari upaya membangun kesepahaman antar pihak terhadap kondisi lanskap daerah.
Menurutnya, pendekatan ini menempatkan kolaborasi sebagai kunci utama, mulai dari pengumpulan data, validasi informasi, hingga penentuan prioritas.
“Melalui proses ini, kita ingin memastikan bahwa setiap keputusan pembangunan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial secara seimbang,” tegasnya.
Proses skrining HCV difokuskan pada identifikasi kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi, baik dari sisi ekologis maupun sosial.
Pendekatan ini juga membuka ruang transparansi, di mana seluruh pemangku kepentingan dapat berkontribusi dalam penyediaan data serta verifikasi lapangan.
"Hasil dari workshop ketiga ini diarahkan untuk memperkuat peta indikatif HCV yang sedang disusun. Selain itu, dilakukan pula penajaman penilaian risiko serta penentuan prioritas kawasan yang membutuhkan perhatian lebih dalam pengelolaan lanskap," jelasnya.
Masih dikatakan Singgih, data dan temuan yang dihasilkan akan menjadi dasar untuk tahapan lanjutan, termasuk analisis mendalam serta perancangan intervensi yang lebih terarah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: