47 Warga Mukomuko Digigit Hewan Penular Rabies

47 Warga Mukomuko Digigit Hewan Penular Rabies

Terlihat petugas saat memberikan vaksin HPR milik warga sebagai upaya mencegah penyakit rabies-Radar Utara/ Wahyudi-

MUKOMUKO, RADARUTARA.ID -  Kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Mukomuko masih menjadi perhatian serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sebanyak 47 warga menjadi korban gigitan hewan penular rabies sepanjang Januari hingga Maret 2026.

Hewan yang terlibat dalam kasus tersebut didominasi oleh anjing, kucing, dan monyet. Seluruh kejadian tersebar di sejumlah wilayah dalam kabupaten, dengan pola kasus yang masih ditemukan secara sporadis di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko, Jajat Sudrajat, SKM, MSi menegaskan, seluruh korban gigitan telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur untuk mencegah penularan virus rabies.

“Semua korban sudah ditangani. Penanganan dilakukan melalui pemberian vaksin anti rabies dan perawatan luka sesuai standar medis,” tegasnya.

Ia menjelaskan, penanganan cepat menjadi kunci utama dalam mencegah berkembangnya virus rabies yang dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Karena itu, setiap warga yang mengalami gigitan hewan diminta untuk tidak menunda mendapatkan pelayanan kesehatan.

Menurutnya, kesadaran masyarakat masih menjadi faktor penting dalam pengendalian kasus. Masih ditemukan warga yang belum segera melapor atau datang ke fasilitas kesehatan setelah tergigit hewan, sehingga berpotensi meningkatkan risiko.

Ia juga mengingatkan bahwa hewan peliharaan, terutama anjing dan kucing, tetap memiliki potensi sebagai penular rabies jika tidak divaksin secara rutin. Sementara itu, interaksi dengan hewan liar seperti monyet juga menjadi salah satu penyebab kasus gigitan.

“Pencegahan tidak hanya dari sisi penanganan korban, tapi juga dari pengendalian hewan penular. Vaksinasi hewan dan kewaspadaan masyarakat harus berjalan bersamaan,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat diminta untuk segera mencuci luka gigitan dengan air mengalir dan sabun selama beberapa menit sebelum mendapatkan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan. Langkah awal ini dinilai efektif untuk mengurangi risiko infeksi virus.

"Kami juga memastikan ketersediaan vaksin anti rabies di fasilitas pelayanan kesehatan masih dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan penanganan kasus yang ada," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: