Kisah Penuh Ironi Dibalik Kecantikan dari Bunga Rafflesia Bengkulu
Kisah Penuh Ironi Dibalik Kecantikan dari Bunga Rafflesia Bengkulu--
RADARUTARA.ID- Rafflesia arnoldii atau yang bisa disebut dengan nama Bunga Bangkai adalah maskot dari Provinsi Bengkulu.
Rafflesia arnoldii mempunyai diameter bunga hingga 110 cm yang membuat spesies ini sebagai bunga terbesar di dunia.
Bunga ini juga sebagai spesies endemik yang mana jenis ini cuma bisa tumbuh di Sumatera, termasuk di Bengkulu.
Tapi, siapa sangka sejarah penemuan jenis bunga bangkai sempat menimbulkan kontroversi sampai berujung ironi.
Selama ini yang kita ketahui bahwa Rafflesia arnoldii ditemukan oleh seorang dokter asal Inggris yang bernama Dr. Joseph Arnold bersama rekannya yang bernama Stamford Raffles.
Mereka menemukan bunga ini pada abad ke-19 atau lebih tepatnya pada tahun 1818 di daerah Bengkulu, atau lebih tepatnya Pulo Lebbar yang sekrang ini merupakan sebuah desa di kecamatan Pino Raya.
Penemuan besar ini menjadikan nama mereka diabadikan pada nama bunga yang mereka temukan, yaitu Rafflesia arnoldi.
Namun fakta sebenarnya orang asing yang pertama kali melihat jenis Rafflesia bukanlah Stamford Raffles ataupun Dr. Joseph Arnold, melainkan Louis Auguste Deschamps.
Louis Auguste Deschamps merupakan seorang dokter dan penjelajah alam yang berasal dari Prancis.
Pada akhir abad ke-18, ia berlayar untuk menjelajah ke Jawa. Namun, Deschamps sempat ditangkap oleh Belanda.
Gubernur Jendral Belanda ketika itu, Van Overstraten, tidak menahannya, namun malah meminta Deschamps untuk melakukan ekspedisi di Pulau Jawa selama tiga tahun, mulai dari tahun 1791 sampai 1794.
Melalui perintah ini, Louis Auguste Deschamps aktif menjelajah dan mengumpulkan banyak jenis tumbuhan di pedalaman pulau Jawa, lalu menulis draf awal "Materials towards a flora of Java".
Deschamps menjadi orang pertama yang melihat, mengumpulkan spesimen, hingga menggambarkan Rafflesia yang ditemukan di Pulau Nusakambangan di tahun 1797, atau 20 tahun sebelum penemuan Dr. Joseph Arnold.
Setahun berlalu, tepatnya pada tahun 1798, Deschamps kembali ke Prancis membawa semua koleksi spesimennya dan catatan-catatan perjalanannya selama di pulau Jawa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: