Harga Sawit Anjlok, Roda Perdagangan Mukomuko Mulai Terasa Melambat

Senin 25-05-2026,08:30 WIB
Reporter : Wahyudi
Editor : Ependi Harian

MUKOMUKO, RADARUTARA.ID – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dalam beberapa hari terakhir mulai memberi dampak nyata terhadap denyut ekonomi masyarakat di Kabupaten Mukomuko. Sektor perdagangan yang selama ini bergantung pada perputaran uang dari hasil sawit perlahan menunjukkan gejala perlambatan, meski hingga kini kondisi masih tergolong stabil.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Mukomuko, Safriadi, SH melalui Kabid Perdagangan, Hutri Wahyudi, SE menyampaikan bahwa penurunan harga sawit langsung mempengaruhi daya beli masyarakat, khususnya petani yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

“Memang sudah mulai terasa. Pedagang gorengan, rumah makan, hingga pelaku usaha sembako ikut terdampak. Karena perputaran uang di masyarakat sebagian besar berasal dari hasil penjualan sawit,” ujar Hutri.

Menurutnya, meskipun aktivitas jual beli masih berjalan normal, ada kecenderungan penurunan transaksi di sejumlah sektor usaha kecil. Hal ini terlihat dari mulai berkurangnya pembelian harian masyarakat, terutama untuk kebutuhan non-prioritas.

BACA JUGA:Harga Sawit Terjun Bebas, Pemkab Diminta Segera Bertindak

Namun demikian, Hutri menegaskan bahwa untuk saat ini kondisi harga bahan pokok di Mukomuko masih relatif aman dan stabil. Belum ada lonjakan harga maupun kelangkaan barang yang signifikan di pasaran.

“Kalau untuk harga sembako, masih normal. Belum ada kenaikan. Artinya kondisi ekonomi kita saat ini masih cukup aman,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya mengingatkan bahwa situasi ini tidak boleh dianggap sepele. Jika harga sawit tidak kunjung membaik dalam waktu lebih dari satu pekan, maka dampaknya dipastikan akan semakin meluas dan berpotensi menekan stabilitas ekonomi daerah.

“Kalau kondisi ini berlangsung lebih dari satu minggu tanpa ada kenaikan harga, maka dampaknya akan lebih terasa. Bisa saja daya beli masyarakat turun drastis dan berpengaruh pada harga maupun distribusi barang,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan harga sawit dan kondisi pasar, guna mengantisipasi gejolak ekonomi yang lebih besar. Koordinasi lintas sektor juga akan diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan barang kebutuhan pokok.

BACA JUGA:Harga Sawit Terjun Bebas, Pemkab Diminta Segera Bertindak

Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat diimbau tetap bijak dalam mengelola pengeluaran serta tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu gejolak harga di pasaran.

"Penurunan harga sawit memang bukan sekadar persoalan komoditas, tetapi menyangkut hajat hidup sebagian besar masyarakat Mukomuko. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin roda ekonomi daerah akan melambat lebih dalam," pungkasnya.

Kategori :