Harga Sawit Tembus Rp2.850/Kg, Petani Diingatkan Jangan Lengah

Harga Sawit Tembus Rp2.850/Kg, Petani Diingatkan Jangan Lengah

Harga sawit di Mukomuko sudah mencapai Rp2.850 per Kg-Radar Utara/ Wahyudi -

MUKOMUKO, RADARUTARA.ID – Angin segar kembali dirasakan para petani kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko. Dalam beberapa hari terakhir, harga tandan buah segar (TBS) di tingkat pabrik menunjukkan tren positif dan relatif stabil di kisaran tinggi. Kondisi ini menjadi harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan petani, meski tetap diiringi dengan imbauan kewaspadaan.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko per 10 Juni 2026, harga pembelian TBS oleh sejumlah pabrik di daerah ini berada pada rentang Rp 2.700 hingga Rp 2.850 per kilogram. Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang sempat berada di bawah Rp 2.500 per kilogram.

Kepala Dinas Pertanian Mukomuko, Hari Mustaman, SP, MP melalui Kepala Bidang Perkebunan, Ade Elyan Prasatya, SE, menyampaikan bahwa kenaikan harga ini patut disyukuri, namun tidak boleh membuat petani lengah.

“Tren harga saat ini cukup baik. Tapi kami mengingatkan petani agar tidak terlena. Kualitas buah harus tetap dijaga, terutama tingkat kematangan saat panen, agar rendemen minyak yang dihasilkan tetap tinggi,” tegasnya.

BACA JUGA:Harga Sawit Naik, Petani di Mukomuko Kembali Sumringah

Adapun rincian harga di sejumlah perusahaan pengolahan sawit di Mukomuko antara lain, PT Sapta Sentosa Jaya Abadi (SSJA) sebesar Rp 2.700 per kilogram, PT Usaha Sawit Mandiri (USM) dan PT Surya Andalan Primatama (SAP) masing-masing Rp 2.850 per kilogram. Sementara PT Karya Sawitindo Mas (KSM) dan PT Sentosa Sejahtera Sejati (SSS) berada di angka Rp 2.800 per kilogram.

Kemudian, PT Mukomuko Indah Lestari (MMIL), PT Daria Dharma Pratama (DDP), PT Gajah Sakti Sawit (GSS), PT Bumi Mentari Karya (BMK), serta PT Muko Panen Raya Abadi (MPRA) menetapkan harga Rp 2.840 per kilogram. Sedangkan PT Karya Agro Sawitindo (KAS) berada di angka Rp 2.780 per kilogram.

“Secara umum, belasan pabrik di Mukomuko masih aktif beroperasi dan terus menyerap hasil panen petani. Ini menjadi indikator positif bagi pergerakan ekonomi daerah,” tambahnya.

Sektor perkebunan kelapa sawit hingga kini masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Mukomuko. Perputaran ekonomi yang ditopang dari hasil sawit sangat berpengaruh terhadap daya beli dan kesejahteraan warga.

Ia pun mengaku akan terus melakukan pemantauan lapangan serta pendataan harga secara berkala. Hasil pemantauan tersebut kemudian dilaporkan dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu sebagai bahan evaluasi dan kebijakan ke depan.

BACA JUGA:Harga Sawit Naik, Petani di Mukomuko Kembali Sumringah

"Kami berharap tren positif harga sawit ini dapat terus meningkat, sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan taraf hidup petani," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: