Putus Rantai Kemiskinan, Mukomuko Stop Jual Mentah Sawit dan Gabah
Kepala Bapperinda Mukomuko, Singgih Pramono, MH-Radar Utara/ Wahyudi-
MUKOMUKO, RADARUTARA.ID — Pemerintah Kabupaten MUKOMUKO mengunci arah baru pembangunan ekonomi dengan cara menghentikan ketergantungan pada penjualan bahan mentah dan beralih ke industrialisasi berbasis hilirisasi.
Dengan kekuatan sektor sawit terbesar di Provinsi Bengkulu serta hamparan sawah produktif, Mukomuko kini menargetkan diri sebagai basis hilirisasi ganda nasional untuk komoditas sawit dan padi.
Langkah ini diposisikan sebagai strategi utama memutus kemiskinan struktural yang selama ini membelit daerah.
Selama bertahun-tahun, Mukomuko hanya menjadi pemasok bahan baku. Sawit dijual dalam bentuk tandan buah segar (TBS), sementara padi dilepas sebagai gabah.
Nilai tambah justru dinikmati daerah lain yang memiliki industri pengolahan.
BACA JUGA:Potongan Tinggi, Petani Sawit di XIV Koto Makin Tertekan
Kepala Bapperida Kabupaten Mukomuko, Singgih Pramono, MH, menegaskan pola lama tersebut harus dihentikan.
“Hilirisasi adalah kunci. Kita tidak boleh terus menjual potensi dalam bentuk mentah. Nilai tambah harus diciptakan di Mukomuko agar kesejahteraan masyarakat ikut meningkat,” tegasnya.
Secara ekonomi, selisih nilai dari hilirisasi sangat besar. Satu ton TBS yang dijual mentah memiliki nilai terbatas.
Namun jika diolah menjadi crude palm oil (CPO), olein, biodiesel hingga produk turunan seperti sabun dan kosmetik, nilainya bisa meningkat lima hingga tujuh kali lipat. Artinya, perputaran uang bisa terjadi di dalam daerah.
Menurut Singgih, selama ini perputaran ekonomi justru lebih banyak dinikmati luar daerah karena minimnya industri pengolahan di Mukomuko.
“Kita ingin memutus pola lama itu. Industri pengolahan harus dibangun di daerah sendiri, supaya uangnya berputar di Mukomuko dan membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.
Pemerintah daerah memetakan dua sektor utama untuk didorong secara masif. Pertama, hilirisasi sawit.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: