NTP dan NTUP Bengkulu Kompak Turun
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Ir. Win Rizal, ME.-Radar Utara / Doni Aftarizal-
BENGKULU, RADARUTARA.ID – Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Usaha Pertanian di Provinsi Bengkulu pada Juni 2026, diketahui kompak sama-sama turun.
Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Ir. Win Rizal, ME. Menurut Win Rizal, NTP Provinsi Bengkulu pada Juni 2026 tercatat sebesar 196,87 atau turun 2,52 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya.
"Penurunan NTP ini terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 1,96 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik sebesar 0,57 persen," ungkap Win Rizal, Rabu 1 Juli 2026.
BACA JUGA:BPS Bimtek 318 Petugas Sensus Ekonomi, Pertengahan Juni Mulai Data Warga Bengkulu Utara
Menurut Win Rizal, kondisi ini menunjukkan jika pendapatan petani dari hasil penjualan komoditas pertanian mengalami penurunan, sementara biaya yang harus dikeluarkan untuk konsumsi dan keperluan rumah tangga justru meningkat.
“Penurunan NTP ini harus menjadi perhatian serius, karena mencerminkan daya beli petani yang semakin tergerus," kata Win Rizal.
Disisi lain, Win Rizal menjelaskan, untuk NTUP Provinsi Bengkulu pada Juni 2026, juga mengalami penurunan yakni sebesar 3,31 persen dibandingkan NTUP bulan sebelumnya, dengan angka tercatat 194,80.
"NTUP merupakan indikator yang mengukur kemampuan rumah tangga pertanian, khususnya dalam menutupi seluruh biaya produksi usahanya," jelas Win Rizal.
BACA JUGA:BPS Bimtek 318 Petugas Sensus Ekonomi, Pertengahan Juni Mulai Data Warga Bengkulu Utara
Win Rizal menambahkan, penurunan NTUP yang mencapai lebih dari 3 persen ini, mengindikasikan biaya produksi pertanian meningkat jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan harga hasil pertanian.
“Turunnya NTUP ini menunjukkan jika petani kita sedang menghadapi tekanan ganda," ujar Win Rizal.
Lebih lanjut Win Rizal menyampaikan, penurunan NTP dan NTUP pada Juni 2026 tersebut, merupakan yang terdalam sepanjang tahun ini.
"Meskipun demikian, fluktuasi NTP dan NTUP merupakan fenomena musiman yang sering terjadi dalam siklus pertanian. Pemerintah daerah diharapkan dapat terus memantau perkembangan harga komoditas dan biaya produksi," tutup Win Rizal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: