Harga Sawit di Mukomuko Tak Bergerak Sejak Jumat
Harga sawit di Mukomuko tertinggi hanya Rp2.950 per kilogram.-Radar Utara/ Wahyudi-
MUKOMUKO, RADARUTARA.ID – Hingga Senin, 15 Juni 2026, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten MUKOMUKO belum juga menunjukkan pergerakan naik.
Kondisi ini memicu kegelisahan di kalangan petani, yang berharap adanya peningkatan harga guna menopang perekonomian mereka.
Berdasarkan rilis resmi Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, harga sawit masih bertahan sejak Jumat, 12 Juni 2026, tanpa adanya perubahan signifikan di sejumlah perusahaan pengolahan kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di daerah tersebut.
Adapun rincian harga TBS yang masih stagnan tersebut antara lain, PT SAPTA sebesar Rp2.700 per kilogram, PT USM Rp2.910 per kilogram, PT KSM Rp2.850 per kilogram, PT SAP Rp2.920 per kilogram, PT SSS Rp2.830 per kilogram, PT MMIL Rp2.890 per kilogram, PT KAS Rp2.830 per kilogram, PT MPRA Rp2.910 per kilogram, PT DDP Rp2.910 per kilogram, PT GSS Rp2.890 per kilogram, serta PT BMK Rp2.910 per kilogram.
BACA JUGA:Harga TBS Sawit Sentuh Rp2.800 Per Kg, Bickman: Mudah-Mudahan Segera Stabil
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, SP, MP, menyampaikan bahwa kondisi harga ini masih sama seperti yang dirilis pada Jumat lalu dan belum ada tanda-tanda kenaikan hingga awal pekan ini.
“Untuk sementara harga TBS masih tetap, belum ada perubahan sejak tanggal 12 Juni 2026,” ujarnya.
Stagnannya harga sawit ini menjadi perhatian serius, mengingat komoditas kelapa sawit merupakan salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Mukomuko.
Sebagian besar petani menggantungkan penghasilan harian mereka dari hasil panen sawit, sehingga fluktuasi harga sangat berpengaruh terhadap daya beli dan kesejahteraan mereka.
BACA JUGA:Harga TBS Mulai Menanjak, Petani Minta Pengawasan Pemerintah Diperketat
Di sisi lain, para petani berharap adanya intervensi atau kebijakan yang mampu mendorong stabilitas harga, bahkan peningkatan, agar pendapatan mereka tidak terus tertekan.
Apalagi di tengah kebutuhan hidup yang semakin meningkat, kondisi harga yang stagnan dinilai belum cukup memberikan dampak positif bagi perekonomian rumah tangga petani.
"Kami akan terus melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan serta instansi terkait guna memastikan transparansi dan kestabilan harga sawit di tingkat petani," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: