Harga Sawit di Mukomuko Tembus Rp3.060 per Kilogram
Harga sawit di Mukomuko tertinggi Rp 3.060 per kilogram.-Radar Utara/ Wahyudi -
MUKOMUKO, RADARUTARA.ID — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko pada Senin, 14 September 2026, masih bertahan di kisaran Rp2.900 hingga Rp3.060 per kilogram. Dari sejumlah perusahaan yang menjadi acuan harga, hanya PT Sapta yang mengalami kenaikan.
Harga tertinggi tercatat di PT Sapta sebesar Rp3.060 per kilogram, naik Rp60 dibandingkan harga sebelumnya. Sementara harga di sejumlah pabrik lainnya masih tetap.
Berdasarkan data harga TBS, PT USM menetapkan harga Rp3.010 per kilogram, PT KSM Rp2.950 per kilogram, PT SAP Rp3.010 per kilogram, PT SSS Rp2.970 per kilogram, PT MMIL Rp2.990 per kilogram, PT KAS Rp2.930 per kilogram.
Kemudian PT MPRA Rp3.030 per kilogram, PT DDP Rp3.030 per kilogram, PT GSS Rp2.990 per kilogram dan PT BMK Rp3.030 per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, SP, MP melalui Kabid Perkebunan, Ade Elyan Prasatya, mengatakan harga tersebut berlaku bagi petani yang menjual langsung TBS ke pabrik.
"Kalau petani menjual langsung ke pabrik, harga yang diterima sesuai dengan harga yang ditetapkan perusahaan. Sedangkan kalau melalui tengkulak, tentu harganya bisa lebih rendah," jelasnya.
Ia mengingatkan petani sawit agar dapat memanfaatkan kondisi harga yang masih cukup baik tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebab, harga TBS sangat bergantung pada kondisi pasar dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu.
"Petani harus bisa memanfaatkan harga yang ada saat ini. Harga sawit bisa naik, tetapi juga bisa kembali turun," katanya.
Pemkab Mukomuko melalui Dinas Pertanian berharap petani tetap mengikuti perkembangan harga dan, jika memungkinkan, menjual hasil panennya melalui jalur pemasaran yang memberikan harga lebih menguntungkan.
"Kondisi harga TBS yang berada di atas Rp2.900 per kilogram di sebagian besar pabrik menjadi peluang bagi petani untuk menjaga pendapatan dari sektor perkebunan sawit, terutama di tengah kebutuhan biaya produksi yang terus berjalan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
