MUKOMUKO, RADARUTARA.ID - Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko mulai mempercepat inventarisasi jaringan irigasi yang mengalami kerusakan di berbagai wilayah sentra pertanian. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh titik kerusakan terdata secara rinci sebelum diajukan ke pemerintah pusat guna mendapatkan alokasi anggaran perbaikan.
Inventarisasi dilakukan menyeluruh, mencakup jaringan primer, sekunder hingga tersier yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan air sawah. Fokusnya jelas, kerusakan tidak boleh dibiarkan berlarut karena berdampak langsung terhadap pola tanam petani.
Kepala Dinas Pertanian Mukomuko, Hari Mustaman, SP, MP menegaskan bahwa kondisi irigasi yang tidak optimal menjadi salah satu kendala utama di lapangan. Sejumlah saluran mengalami pendangkalan, kebocoran, hingga kerusakan konstruksi yang menghambat distribusi air ke lahan pertanian.
Menurutnya, jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka pola tanam padi sawah masyarakat akan terganggu. Dampaknya tidak hanya pada penurunan produktivitas, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan daerah.
“Kerusakan irigasi ini tidak bisa ditunda. Kita sedang kumpulkan data detailnya untuk diajukan ke pemerintah pusat agar segera ditangani,” tegasnya.
Ia menjelaskan, usulan anggaran perbaikan tidak bisa dilakukan tanpa data yang akurat. Karena itu, pihaknya menginstruksikan jajaran di lapangan untuk melakukan pendataan secara detail, mulai dari panjang saluran yang rusak, tingkat kerusakan, hingga kebutuhan anggaran perbaikannya.
Pendataan tersebut juga menjadi dasar dalam menentukan skala prioritas. Jaringan irigasi yang berpengaruh langsung terhadap luas areal tanam dan jumlah petani menjadi perhatian utama dalam pengusulan.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kecepatan dalam proses pengusulan. Semakin cepat data rampung, semakin besar peluang perbaikan bisa direalisasikan dalam waktu dekat melalui dukungan anggaran pusat.
"Ini sangat pentingang, mengingat sebagian besar lahan sawah di Mukomuko sangat bergantung pada sistem irigasi. Tanpa suplai air yang stabil, petani tidak dapat menjalankan pola tanam secara maksimal, termasuk target peningkatan indeks pertanaman," jelasnya.
Di sisi lain, kondisi irigasi yang rusak juga sering memicu konflik antarpetani terkait pembagian air. Situasi ini kerap terjadi di daerah yang salurannya tidak lagi berfungsi optimal. Dengan dilakukan inventarisasi secara menyeluruh, diharapkan seluruh persoalan tersebut dapat diurai secara bertahap melalui perbaikan fisik jaringan irigasi.
"Kami memastikan proses ini akan terus dikawal hingga tahap pengusulan dan realisasi. Targetnya jelas, jaringan irigasi kembali berfungsi normal sehingga aktivitas pertanian tidak terganggu dan produksi padi tetap terjaga," pungkasnya.