Kurikulum Berbasis Cinta, Arah Baru Pendidikan Madrasah di Mukomuko

Jumat 31-07-2026,10:30 WIB
Reporter : Wahyudi
Editor : Ependi Harian

Tekanan terhadap capaian nilai sering memicu munculnya rasa takut, rendah diri, hingga ketidaknyamanan peserta didik dalam mengikuti proses belajar. 

BACA JUGA:Libatkan Kejaksaan, Kemenag Mukomuko Bekali Madrasah Soal Pengelola Dana BOS

“Tekanan pada capaian akademik sering membuat siswa kehilangan rasa percaya diri. Ini yang harus diubah melalui pendekatan yang lebih humanis,” tambahnya.

Melalui pendekatan berbasis cinta, proses pembelajaran diarahkan menjadi lebih humanis. Kesalahan siswa diposisikan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai kegagalan.

Perbedaan kemampuan dipandang sebagai potensi yang harus dikembangkan, bukan sebagai dasar untuk memberikan label negatif. 

“Kesalahan siswa bukan kegagalan, tetapi bagian dari proses belajar yang harus dihargai dan diarahkan,” katanya.

Pendekatan ini juga dinilai mampu menjawab berbagai persoalan sosial di lingkungan pendidikan, seperti perundungan, rendahnya empati, dan melemahnya nilai moral.

BACA JUGA:Tudingan Pungli di MTsN 2 Mukomuko, Kemenag: Itu Informasi yang Menyesatkan

Dengan membiasakan sikap saling menghargai, peserta didik diharapkan mampu membangun hubungan sosial yang sehat di tengah masyarakat.

Kemenag Mukomuko menilai keberhasilan madrasah tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak. 

“Pendidikan harus melahirkan manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang kuat,” pungkasnya. 

Kategori :