Pemkab Bengkulu Utara Lestarikan Bahasa Enggano

Jumat 12-06-2026,08:30 WIB
Reporter : Abdul Gafur
Editor : Ependi Harian

ARGAMAKMUR, RADARUTARA.ID - Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara bersama Balai Bahasa Provinsi Bengkulu mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan Bahasa masyarakat Enggano.

Karena saat ini kondisi dilapangan, bahasa masyarakat yang berada di pulau terluar ini berstatus terancam punah. Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan yang digelar di ruang kerja Bupati Bengkulu Utara, pada Kamis (11/6/2026).

Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, menyampaikan bahwa pertemuan dengan jajaran Balai Bahasa Provinsi Bengkulu difokuskan pada penyusunan strategi revitalisasi dan pelestarian bahasa asli yang berasal dari Pulau Enggano tersebut.

“Hari ini bersama Balai Bahasa Provinsi Bengkulu membahas berbagai strategi revitalisasi dan pelestarian bahasa asli Pulau Enggano,” ujar Arie Septia Adinata.

BACA JUGA:Soroti Kelestarian Hutan, Pemkab Gelar Konsultasi Publik Rencana Aksi IAD Akselerasi Sadar Alam

Bupati Arie menegaskan, bahwa upaya pelestarian ini bukan sekadar tugas administratif saja, melainkan sebuah keharusan budaya. 

Menurutnya, bahasa daerah memiliki nilai sejarah yang tidak dapat digantikan oleh apapun. Tentu pemerintah mengambil langkah nyata agar bahasa tersebut terselamatkan.

“Bahasa Enggano merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai harganya. Jika bahasa ini hilang, maka kita juga akan kehilangan sebagian identitas dan sejarah masyarakat Enggano yang diwariskan secara turun-temurun,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bupati Arie mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pelestarian Bahasa Enggano berasal dari derasnya arus modernisasi. 

BACA JUGA:Komitmen Pemkab Bengkulu Utara, Layanan Pembuatan Paspor Hadir di Arga Makmur

Perubahan gaya hidup, pesatnya perkembangan teknologi, serta pergeseran pola komunikasi masyarakat dinilai sebagai ancaman serius yang perlu diantisipasi segera.

Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara bersama Balai Bahasa Provinsi Bengkulu berencana untuk menyusun kamus saku Bahasa Enggano, mengadakan pelatihan bagi guru muda, serta mendorong penggunaan bahasa tersebut dalam kegiatan seni dan budaya lokal sebagai bagian dari langkah darurat penyelamatan.

“Tantangannya adalah di era modernisasi, perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat. Kondisi ini tentu menjadi perhatian bersama dan harus segera diantisipasi melalui langkah-langkah nyata agar bahasa tersebut tetap ada,” pungkas Arie Septia Adinata.

Kategori :