Saat ini, kata dia, berbagai kekurangan itu telah mulai diperbaiki sesuai arahan dan petunjuk yang berlaku.
Budi juga meminta pihak SPPG untuk segera menindaklanjuti hasil pembenahan yang sudah dilakukan pemilik dapur dan menyampaikan laporan kembali kepada pihak terkait, agar proses evaluasi bisa segera selesai dan dapur kembali beroperasi.
Menurutnya, sanksi suspend ini tidak hanya berdampak pada para pelajar, tetapi juga merugikan banyak pihak lain.
Sejumlah relawan dapur dan tenaga kerja sementara harus berhenti bekerja, sehingga kehilangan sumber pendapatan.
“Yang dirugikan bukan hanya pelajar penerima manfaat, tetapi juga para relawan yang selama ini bekerja di dapur. Karena itu kami mengajak semua pihak bersama-sama fokus pada perbaikan agar program ini bisa berjalan lagi,” tegasnya.
Budi menambahkan, program MBG di Napal Putih sejauh ini bahkan belum mampu mengakomodir seluruh pelajar yang ada, sehingga terhentinya dapur satu-satunya tersebut semakin mempersempit jangkauan program gizi bagi siswa.
Sementara itu, pemilik dapur mitra MBG, Etika, membenarkan adanya sanksi suspend yang diterima pihaknya.
BACA JUGA:MBG di Bengkulu Sasar 331.731 Penerima
Ia memastikan seluruh catatan kekurangan yang menjadi dasar lapsus sudah mulai diperbaiki.
“Kami sudah berupaya melakukan pembenahan sesuai petunjuk yang ada. Harapan kami, pihak terkait segera meninjau ulang hasil perbaikan ini sehingga dapur bisa kembali beroperasi,” kata Etika kepada Radar Utara.
Etika menyebut, sejak awal berjalan, dapur MBG miliknya baru sempat beroperasi selama 12 hari, namun dalam waktu singkat itu sudah mampu melayani lebih dari 1.700 pelajar di wilayah Napal Putih.
Kini, baik para penerima manfaat maupun para relawan dapur hanya bisa berharap agar hasil pembenahan yang telah dilakukan segera mendapat persetujuan dari BGN, sehingga program pemenuhan gizi bagi pelajar tersebut bisa kembali dilanjutkan.