Harga Pakan dan Pasokan Luar Daerah Tekan Peternak Ayam di Bengkulu Utara

Harga Pakan dan Pasokan Luar Daerah Tekan Peternak Ayam di Bengkulu Utara

Harga Pakan dan Pasokan Luar Daerah Tekan Peternak Ayam di Bengkulu Utara-Antara Foto-

RADARUTARA.ID - Kenaikan harga pakan ternak yang terus terjadi semakin menekan keberlangsungan usaha peternakan ayam petelur lokal di Kabupaten Bengkulu Utara. 

Di tengah tingginya biaya produksi, para peternak juga harus menghadapi kondisi harga telur yang relatif rendah serta permintaan pasar yang masih fluktuatif.

Kondisi tersebut turut dirasakan oleh unit usaha ayam petelur milik BUMDes Bukit Indah, Kecamatan Ketahun, yang saat ini menjadi salah satu komoditas unggulan Desa Bukit Indah.

Kepala Desa Bukit Indah, Rifqi Hidayat, mengungkapkan kenaikan harga pakan menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi dalam pengelolaan usaha ayam petelur desa. 

Sebab, pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam biaya operasional peternakan.

Menurutnya, peningkatan biaya produksi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan harga jual telur di tingkat peternak. 

Meskipun harga telur secara bertahap mulai mengalami kenaikan dibanding sebelumnya, margin yang diperoleh peternak masih relatif tipis.

“Yang menjadi persoalan sekarang harga pakan terus naik, sementara harga telur belum sebanding dengan biaya produksi. Memang harga telur mulai naik secara bertahap, tetapi margin yang didapat peternak masih sangat tipis,” ungkap Rifqi.

Selain persoalan harga pakan, kondisi peternak juga semakin berat akibat permintaan pasar yang tidak selalu stabil. 

Fluktuasi permintaan tersebut membuat hasil produksi telur lokal tidak selalu terserap secara maksimal.

Rifqi menyebut, salah satu persoalan yang turut mempengaruhi pasar telur lokal adalah masuknya pasokan telur dari luar daerah. 

Ketika pasokan dari luar masuk dalam jumlah besar, produk telur peternak lokal ikut terdampak, terutama dari sisi harga dan penyerapan pasar.

“Pasokan dari luar daerah biasanya ikut masuk dan akhirnya menekan pasar telur lokal.Ini yang membuat peternak kita semakin sulit untuk menjaga harga dan memastikan produksi terserap,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, Rifqi berharap para pelaku pasar, termasuk sektor penyediaan bahan pangan untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) maupun kebutuhan pasar lainnya, dapat memberikan ruang lebih besar bagi produk hasil peternakan lokal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: