Kemenag Mukomuko Dorong KUA Cegah Pernikahan Dini untuk Tekan Stunting

Kemenag Mukomuko Dorong KUA Cegah Pernikahan Dini untuk Tekan Stunting

Kepala Kantor Kemenag Mukomuko, H Widodo, SHI, MH-Radar Utara/ Wahyudi -

MUKOMUKO, RADARUTARA.ID — Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mukomuko mendorong seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) di wilayah tersebut mengambil peran lebih kuat dalam upaya menekan angka stunting. Pencegahan pernikahan dini atau perkawinan anak dinilai perlu menjadi bagian penting dari langkah pencegahan stunting di tingkat masyarakat.

Kepala Kantor Kemenag Mukomuko, H. Widodo, SHI, MAP, menegaskan bahwa persoalan stunting tidak cukup ditangani setelah anak lahir. Pencegahan harus dilakukan sejak sebelum pasangan memasuki kehidupan rumah tangga, termasuk memastikan calon pengantin memiliki kesiapan usia, kesehatan, pengetahuan dan kemampuan membangun keluarga.

Menurutnya, pernikahan pada usia anak dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko munculnya berbagai persoalan dalam keluarga. Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesiapan mental dan ekonomi, tetapi juga kesiapan kesehatan reproduksi calon ibu serta kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak.

Karena itu, KUA tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat pencatatan pernikahan. Lembaga tersebut memiliki posisi strategis untuk memberikan pemahaman kepada calon pengantin agar benar-benar siap membangun keluarga.

BACA JUGA:Cegah Stunting, KUA Minta Sekolah Lebih Terbuka Untuk Edukasi Pernikahan

“Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu. Salah satunya melalui pencegahan pernikahan dini. Jangan sampai anak-anak yang seharusnya masih berada pada usia pendidikan justru masuk ke dalam perkawinan sebelum benar-benar siap,” tegas Widodo.

Ia meminta seluruh jajaran KUA di Kabupaten Mukomuko memperkuat edukasi kepada masyarakat, terutama kepada remaja, orang tua dan calon pengantin. Edukasi tersebut harus disampaikan secara terbuka dan berkelanjutan sehingga masyarakat memahami bahwa mencegah perkawinan anak bukan semata-mata persoalan administrasi pernikahan, tetapi menyangkut masa depan keluarga dan kualitas generasi berikutnya.

Kemenag juga mendorong agar penghulu dan penyuluh agama tidak berhenti pada pelayanan administratif. Setiap kesempatan pembinaan kepada calon pengantin harus dimanfaatkan untuk menyampaikan pentingnya perencanaan keluarga, kesiapan menjadi orang tua, kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi serta pola pengasuhan anak.

Widodo menilai, keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah munculnya persoalan tumbuh kembang anak. Ketika pasangan menikah dalam kondisi belum siap secara usia, pengetahuan, kesehatan maupun ekonomi, berbagai persoalan rumah tangga dapat muncul dan pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan anak.

BACA JUGA:10 Persen Kasus Stunting Dipicu Pernikahan Dini, Puskesmas Perkuat Intervensi Lintas Sektor

Namun demikian, ia menegaskan bahwa pernikahan dini bukan satu-satunya penyebab stunting. Stunting merupakan persoalan yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, pola asuh, kondisi sosial ekonomi hingga akses terhadap pelayanan kesehatan.

“Pernikahan dini memang bukan satu-satunya penyebab stunting. Tetapi ini merupakan salah satu faktor yang harus kita cegah. Kalau dari hulunya bisa kita perbaiki, maka peluang untuk melahirkan dan membesarkan generasi yang sehat juga semakin besar,” katanya.

Pihaknya berharap langkah tersebut dapat berjalan seiring dengan program pemerintah daerah dan instansi terkait dalam percepatan penurunan stunting. Penanganan persoalan tersebut membutuhkan kerja bersama, sebab tidak mungkin dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.

Sebab KUA memiliki ruang yang cukup besar untuk masuk dalam upaya tersebut karena berhadapan langsung dengan masyarakat, khususnya pasangan yang akan membangun rumah tangga. Melalui pendekatan keagamaan, keluarga dan sosial, pesan tentang pentingnya kesiapan menikah dapat disampaikan dengan lebih dekat kepada masyarakat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: