Pasokan Buah Seret, Pabrik Sawit di Mukomuko Pangkas Tenaga Kerja
Pasokan buah kurang, pabrik sawit di Mukomuko mulai mengurangi karyawannya-Radar Utara/ Wahyudi-
MUKOMUKO, RADARUTARA.ID — Industri minyak kelapa sawit mentah (CPO) di Kabupaten Mukomuko mulai menunjukkan tekanan serius. Penurunan pasokan bahan baku tandan buah segar (TBS) membuat sejumlah pabrik tidak lagi beroperasi optimal, bahkan berdampak langsung pada pengurangan tenaga kerja.
Kondisi ini bukan sekadar penurunan produksi biasa. Belasan pabrik pengolahan CPO di daerah ini dilaporkan kesulitan memenuhi kebutuhan bahan baku sesuai kapasitas mesin. Akibatnya, produksi merosot tajam dan pendapatan perusahaan ikut tertekan.
Dampak nyata sudah terjadi di salah satu perusahaan, PT Karya Agro Sawitindo (PT KAS) yang beroperasi di Desa Pernyah, Kecamatan Teramang Jaya. Manajemen perusahaan terpaksa merumahkan 21 karyawan karena produksi tidak lagi mencukupi untuk mempertahankan operasional normal.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mukomuko, Nurdiana, SE., MAP membenarkan adanya laporan pengurangan tenaga kerja tersebut. Menurutnya, alasan utama yang disampaikan pihak perusahaan adalah menurunnya produksi akibat minimnya pasokan TBS.
BACA JUGA:Program Replanting Sawit 2026 Diusulkan 750 Hektare
“Perusahaan menyampaikan produksi turun karena kekurangan bahan baku,” ujarnya.
Dinas telah menerima laporan resmi terkait kebijakan tersebut dan memastikan akan turun tangan memediasi hubungan antara pekerja dan perusahaan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan hak-hak karyawan tetap terpenuhi sesuai ketentuan.
Informasi sementara, kewajiban perusahaan terkait pesangon telah dilaksanakan. Namun demikian, Disnakertrans tetap akan melakukan pendampingan guna menghindari potensi persoalan lanjutan.
Fenomena berkurangnya pasokan TBS ini belum diketahui penyebab pastinya. Sejumlah pihak menduga produksi kebun sawit masyarakat mengalami penurunan. Di sisi lain, situasi ini terjadi beriringan dengan penertiban kawasan hutan oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), yang memunculkan spekulasi adanya keterkaitan terhadap distribusi bahan baku.
"Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, bukan tidak mungkin gelombang pengurangan tenaga kerja akan meluas ke perusahaan lain. Dampaknya, angka pengangguran di Kabupaten Mukomuko berpotensi meningkat dalam waktu dekat," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: