BENGKULU, RADARUTARA.ID - Upaya pengenanganan banjir tidak hanya membutuhkan kolaborasi antarpihak, tetapi juga harus berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.
Demikian disampaikan Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Bengkulu, RA. Denni usai mewakili Gubernur Bengkulu, H. Helmi Hasan, SE meninjau infrastruktur pengendali banjir bersama FORKOPIMDA di Kelurahan Tanjung Agung, Rabu 14 Oktober 2026.
"Penanganan banjir membutuhkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah mulai dari tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten/kota," ungkap Denni.
Tak hanya itu, lanjut Denni, dalam upaya penanganan bencana khususnya banjir, tentu juga harus dapat berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Rp20 M untuk Tinggikan Badan Jalan Rawa Makmur, Banjir Ditargetkan Teratasi
"Dalam artian tidak cukup dengan membangun dan melihara infrastruktur pengendali banjir saja, sistem drainase juga harus menjadi perhatian penting terutama pada titik-titik yang berpotensi menimbulkan genangan," kata Denni.
Menurut Denni, infrastruktur pengendali banjir dan sistem drainase permukiman, merupakan dua komponen yang saling berkaitan dan membutuhkan perhatian serius.
"Maka dari itu penanganan banjir perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada aliran sungai saja. Tetapi juga mencakup sistem drainase di kawasan permukiman suatu daerah," tegas Denni.
Sementara itu, Kapolda Bengkulu, Irjen Pol. Yudi Sulistianto Wahid mengemukakan, dalam penanganan banjir seluruh pihak diharapkan dapat memperkuat komitmen, dan menyelaraskan langkah sesuai tugas serta kewenangan masing-masing.
BACA JUGA:12 Hektare Padi Siap Panen di Resno Rusak Diterjang Banjir
"Koordinasi berkelanjutan diperlukan agar program pengendalian banjir berjalan optimal, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Yudi yang turut dalam peninjauan.
Dibagian lain, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII, Wil Mushawiry Suryana mengatakan, peninjauan ini guna melihat secara langsung kondisi infrastruktur pengendali banjir, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.
"Khususnya dalam mengantisipasi potensi banjir di Kota Bengkulu, terutama menjelang musim hujan 2026," papar Wil.
Lebih lanjut Wil menyampaikan, banjir akibat meluapnya Sungai Air Bengkulu, merupakan persoalan berulang yang berdampak terhadap aktivitas dan kehidupan masyarakat.
"Keberadaan pengendali ini, ditargetkan dapat meminimalisir dampak. Meskipun demikian tetap dibutuhkan kesiapsiagaan dan langkah antisipasi lainnya yang terencana, untuk meminimalkan risiko serta dampak banjir," singkat Wil.