BENGKULU, RADARUTARA.ID - Antrian kendaraan terpantau mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak, yang berada di Desa Malakoni Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara.
Ini terjadi setelah Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga untuk Pulau Enggano, yang merupakan salah satu pulau terdepan di Indonesia tersebut, sejak dua pekan terakhir mengalami kekosongan.
Tokoh Adat Enggano, Amli Kaitora mengatakan, sejak dua pekan terakhir, masyarakat di Pulau Enggano menghadapi keterbatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga.
"Baru hari ini BBM dari pertamina yang baru tiba kemarin (Senin, red) didistribusikan kepada masyarakat. Sehingga akhirnya masyarakat mengantri di SPBU untuk mendapatkan BBM tersebut," ungkap Amli, Selasa 25 Agustus 2026.
BACA JUGA:Marga Sakti Sebelat Punya SPBU, BBM Satu Harga Resmi Beroperasi di HUT RI ke-81
Menurut Amli, terputusnya pasokan BBM dari Bengkulu ke Pulau Enggano, karena selama ini kuota per bulan hanya diberikan 48 ribu liter. Sementara di Enggano ini, dari waktu ke waktu, jumlah kendaraan terus bertambah.
"Yang secara otomatis memicu peningkatan kebutuhan BBM, tanpa dibarengi dengan penambahan kuota," kata Amli.
Disisi lain, Amli menyampaikan, pemerintah desa dan kecamatan, sebenarnya telah berkirim surat ke Pertamina untuk menambah usulan kuota menjadi 100 ribu liter per bulan.
"Mengingat kebutuhan BBM masyarakat terus mengalami peningkatan. Baik itu untuk kebutuhan motor, mobil dan juga para nelayan. Ketersediaan BBM ini sangat vital bagi masyarakat untuk menggerakan ekonomi," ujar Amli.
Sementara itu Camat Enggano, Yopi Pardiansyah tak menampikkan jika sejak dua pekan terakhir, terjadi kekosongan BBM di Pulau Enggano. Jadi ketika BBM ada dan didistribusikan, secara otomatis banyak masyarakat yang mengantri.
BACA JUGA:Registrasi Kapal Nelayan Dikebut, Data Jadi Dasar Penyaluran BBM
"Tadi antrian kendaraan masyarakat sangat panjang untuk mendapatkan BBM," jelas Yopi.
Lebih lanjut Yopi mengatakan, terkait kebutuhan BBM ini, pihaknya sudah bersurat kepada Pertamina yang isinya meminta penambahan kuota.
"Permintaan penambahan kuota itu, dari 48 ribu menjadi 100 ribu liter per bulan. Ini semata-mata agar kebutuhan BBM untuk masyarakat dapat terpenuhi," demikian Yopi.