Pasokan Telur MBG Diduga Didominasi Pemasok Luar, HET Tak Transparan

Senin 10-08-2026,09:15 WIB
Reporter : Sigit Haryanto
Editor : Ependi Harian

Satgas Diminta Lindungi Peternak Lokal

RADARUTARA.ID - Tekanan terhadap peternak telur lokal di sejumlah desa semakin terasa. 

Di tengah harga pakan ternak yang terus membebani biaya produksi, permintaan telur di pasaran justru mengalami penurunan. 

Kondisi tersebut diperparah dengan harga telur yang hingga kini, masih fluktuatif dan belum memberikan kepastian bagi peternak.

Bukan hanya pasar umum, permintaan telur dari lingkungan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya menjadi salah satu pasar potensial bagi peternak lokal, kini juga disebut mengalami penurunan.

Informasi yang berhasil dihimpun Radar Utara menyebutkan, pemenuhan kebutuhan telur untuk sejumlah dapur MBG saat ini diduga lebih banyak mengandalkan pasokan dari pemasok luar. 

Salah satu alasan yang disebut menjadi pertimbangan adalah harga telur dari pemasok luar yang dinilai lebih murah dibandingkan telur yang diproduksi peternak lokal.

Kondisi ini pun menjadi perhatian pengurus Bumdes Bukit Harapan, Mulyono. 

Ia mengungkapkan, pada tahap awal pelaksanaan program MBG, dapur mitra sempat mengandalkan pasokan telur dari pihaknya.

Namun, kerja sama tersebut belakangan terhenti. Salah satu alasan yang diterima pihaknya, telur yang dihasilkan peternak lokal dinilai berukuran kecil, sementara harga yang diminta juga harus ditekan agar lebih murah.

“Kalau soal ukuran telur, sebenarnya produksi kami relatif. Ada yang kecil dan ada yang besar. Kalau memang permintaannya harus telur ukuran besar, kami juga sanggup memenuhi,” ungkap Mulyono.

Menurutnya, persoalan yang lebih penting justru berada pada penyesuaian harga. Peternak lokal harus menanggung tingginya biaya pakan yang menjadi salah satu komponen terbesar dalam operasional peternakan.

 Karena itu, harga pembelian telur semestinya turut mempertimbangkan biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak.

Mulyono juga mengaku kecewa terhadap pola kemitraan yang berjalan. 

Ia menilai tuntutan mengenai kualitas, ukuran dan harga telur dari pihak dapur MBG belum dibarengi dengan keterbukaan mengenai harga acuan atau HET yang sebenarnya.

Ketidaktransparanan tersebut, kata dia, pada akhirnya membuat peternak lokal berada dalam posisi yang sulit. 

Kategori :