MUKOMUKO, RADARUTARA.ID – Kasus diare dalam sepekan terakhir di Kabupaten Mukomuko menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Mukomuko. Kondisi ini dinilai bukan sekadar fenomena musiman, melainkan indikasi masih lemahnya sanitasi lingkungan dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat.
Kepala Dinas Kesehatan Mukomuko, Jajat Sudrajat, SKM, MSi, menegaskan bahwa peningkatan kasus diare tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah faktor mendasar seperti kualitas air yang tidak layak konsumsi, kebersihan lingkungan yang buruk, serta perilaku masyarakat yang abai terhadap higienitas menjadi pemicu utama.
Ia menjelaskan, penggunaan air dari sumber yang tercemar tanpa proses pengolahan yang benar berisiko tinggi membawa bakteri penyebab diare. Selain itu, konsumsi makanan yang tidak higienis, penyimpanan makanan yang sembarangan, serta kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan turut mempercepat penyebaran penyakit.
“Ini bukan hanya soal penyakit, tapi soal kebiasaan. Jika masyarakat masih mengabaikan kebersihan, maka kasus seperti ini akan terus berulang,” tegasnya.
Ia juga menyoroti persoalan klasik yang belum tertangani secara maksimal, seperti buruknya sistem drainase dan pengelolaan sampah di sejumlah wilayah. Penumpukan sampah dan genangan air kotor menjadi tempat ideal berkembangnya kuman penyebab penyakit.
"Dan saya berharap kepada masyarakat untuk tidak menyepelekan gejala diare. Jika buang air besar yang terjadi berulang kali, apalagi disertai kondisi tubuh lemas dan tanda dehidrasi, harus segera berobat. Risiko komplikasi lebih tinggi terjadi pada anak-anak dan lanjut usia," jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, pihaknya menekankan pentingnya perubahan perilaku di tingkat rumah tangga. Air minum harus dimasak hingga benar-benar matang, makanan dikonsumsi dalam kondisi bersih dan tertutup, serta kebiasaan mencuci tangan dengan sabun harus diterapkan secara konsisten.
Peran keluarga dinilai menjadi kunci dalam memutus rantai penyebaran diare. Mulai dari menjaga kebersihan rumah, mengelola limbah dengan baik, hingga memantau kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama anak-anak.
"Dan kami akan terus melakukan pemantauan di lapangan serta menggencarkan upaya pencegahan melalui edukasi langsung ke masyarakat. Sebab keberhasilan menekan kasus diare sangat bergantung pada kesadaran kolektif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan," pungkasnya.