Kondisi Ekonomi Global Berpotensi Picu Inflasi Naik

Kondisi Ekonomi Global Berpotensi Picu Inflasi Naik

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat-Radar Utara / Doni Aftarizal-

BENGKULU, RADARUTARA.ID – Ketidakpastian kondisi ekonomi global yang terjadi saat ini, berpotensi menjadi pemicu naiknya angka inflasi termasuk di daerah.

Pasalnya dinamika ekonomi global tersebut dinilai memiliki pengaruh terhadap kondisi perekonomian domestik, terutama dalam hal tekanan inflasi dan nilai tukar.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat mengungkapkan, tahun ini tingkat inflasi memang tercatat relatif tinggi. 

"Kondisi ini membuat bank sentral mengambil langkah antisipatif, sepeti dengan melakukan penyesuaian suku bunga. Permasalahannya, kebijakan ini memiliki sisi lain yang kurang menguntungkan," ungkap Wahyu.

BACA JUGA:Rakor Antar Daerah, Bupati Arie Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi di Bengkulu Utara

Terutama, lanjut Wahyu, bagi masyarakat yang masih memiliki cicilan kredit, karena beban bunga menjadi semakin berat. Meskipun demikian BI tetap mencari formula, supaya nilai tukar tetap terjaga.

"Hal sedemikian tetap harus kita lakukan, walaupun sejauh ini ekonomi kita masih tetap tumbuh," kata Wahyu. 

Wahyu memaparkan, suku bunga acuan saat ini berada diangka 5,75 persen, sementara pertumbuhan ekonomi nasional masih mampu bertahan di atas 5 persen. 

"Sedangkan inflasi secara nasional tercatat di kisaran 3,2 persen, yang masih berada dalam rentang sasaran. Tapi itu tadi, tekanan dari luar tetap perlu diwaspadai," papar Wahyu.

Menurut Wahyu, harga komoditas global, termasuk minyak terus mengalami kenaikan. Harga minyak mentah yang telah menembus angka 100 dolar per barel menjadi beban tersendiri bagi negara, yang masih sangat bergantung pada impor bahan bakar.

BACA JUGA:Indeks Harga Kelompok Pengeluaran Picu Inflasi Bengkulu 3,38 Persen

"Maka dari itu penting upaya pengurangan ketergantungan tersebut, salah satunya melalui program B50," ujar Wahyu.

Wahyu menambahkan, terkait proyeksi inflasi ke depan, diperkirakan untuk skala nasional masih tetap berada dalam rentang yang terkendali. 

"Khusus di Bengkulu ini, hingga September inflasi tercatat sebesar 3,3 persen. Angka ini diproyeksikan bergerak, lantaran komponen pembentuk inflasi sangat beragam, seperti harga bahan makanan," tambah Wahyu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: