DBH Sawit Sudah Diproyeksikan, Jalan Trans Lapindo-Kinal Jaya Belum Direalisasikan
Jalan Trans Lapindo-Kinal Jaya Belum Direalisasikan-Radar Utara/ Sigit Haryanto-
RADARUTARA.ID - Harapan masyarakat pedalaman Bengkulu Utara terhadap kelanjutan pembangunan jalan dari kawasan Trans Lapindo, Desa Muara Santan menuju Desa Kinal Jaya, kembali dipertanyakan.
Pasalnya, hingga pertengahan tahun anggaran 2026, belum terlihat tanda-tanda serius di lapangan terkait realisasi pembangunan jalan yang sebelumnya diproyeksikan mendapat pembiayaan melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Kelapa Sawit.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara telah memploting sejumlah anggaran DBH Kelapa Sawit Tahun Anggaran 2026 untuk melanjutkan pembangunan akses jalan Trans Lapindo menuju Desa Kinal Jaya.
Program tersebut menjadi salah satu harapan besar masyarakat yang selama ini mengandalkan akses jalan tersebut untuk menunjang mobilitas dan aktivitas perekonomian.
BACA JUGA:Rp3 Miliar DBH Sawit Digelontorkan, Jalan Talang Karet Segera Dihotmik
Kondisi belum adanya progres di lapangan tersebut mulai menimbulkan pesimisme di tengah masyarakat.
Terlebih, komitmen pemerintah daerah untuk melanjutkan pembangunan jalan tersebut sebelumnya sangat dinantikan oleh warga yang bermukim di wilayah pedalaman.
Masyarakat bahkan berharap, meski kemampuan anggaran daerah terbatas, pembangunan tahun ini setidaknya dapat direalisasikan hingga kawasan Tanjakan KB.
Titik tersebut selama ini dikenal menjadi salah satu persoalan serius bagi masyarakat, terutama ketika kondisi cuaca diguyur hujan.
Saat hujan turun, kondisi jalan yang berlumpur membuat mobilitas masyarakat menjadi jauh lebih sulit.
BACA JUGA:Utang DBH Persempit Ruang Fiskal, Pemprov Bengkulu Tetap Jalankan Program Prioritas
Aktivitas pengangkutan hasil perkebunan maupun kebutuhan masyarakat sehari-hari pun ikut terdampak.
Dikonfirmasi Radar Utara, Kepala Desa Muara Santan, Hosen Basri, membenarkan bahwa sampai saat ini belum terlihat adanya pengerjaan terhadap akses jalan poros di wilayah Trans Lapindo yang menjadi bagian dari desanya tersebut.
“Untuk sampai saat ini belum ada tanda-tanda jalan poros di wilayah Trans Lapindo yang menjadi bagian desa kami itu dikerjakan,” ujar Hosen.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
