Peduli Lingkungan, Calon Pengantin Wajib Tanam Pohon
Terlihat calon pengantin saat menanam pohon untuk kelestarian lingkungan-Radar Utara/ Wahyudi -
MUKOMUKO, RADARUTARA.ID — Kesadaran menjaga lingkungan mulai diarahkan sejak fase awal kehidupan rumah tangga. Kementerian Agama Republik Indonesia menggagas program ekoteologi melalui gerakan menanam satu pohon bagi calon pengantin. Dan gerakan itu sudah mulai diterapkan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Mukomuko.
Program ini menempatkan calon pengantin (catin) sebagai bagian dari solusi atas persoalan lingkungan. Setiap pasangan yang akan menikah didorong untuk menanam pohon sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian alam. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk tanggung jawab nyata terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.
Kepala Kementerian Agama Kabupaten Mukomuko, H. Widodo, SHI, MAP, menegaskan bahwa gerakan ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar aktivitas penanaman. Menurutnya, program ini bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keagamaan.
“Calon pengantin menanam pohon, itu sama dengan menanam cinta untuk bumi. Ini bukan kegiatan simbolik, tetapi bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan sebagai bagian dari ikhtiar menjaga ciptaan Tuhan,” tegas Widodo.
Ia menjelaskan, konsep ekoteologi yang diusung menekankan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga tanggung jawab spiritual yang tidak bisa diabaikan.
Program ini juga menjadi pengingat bahwa kehidupan rumah tangga tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia, tetapi juga harus memiliki kesadaran terhadap dampak ekologis yang ditimbulkan.
"Penanaman pohon oleh catin diharapkan menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar dalam jangka panjang," harapnya.
Widodo menambahkan, gerakan ini mengandung pesan bahwa apa yang ditanam hari ini akan menentukan kondisi masa depan.
“Menanam hari ini berarti menghidupkan masa depan. Ini investasi lingkungan yang manfaatnya akan dirasakan generasi berikutnya,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan, program tersebut dipandang sebagai pendekatan yang relevan dan strategis. Dengan melibatkan pasangan muda yang akan memulai kehidupan baru, pemerintah mencoba menanamkan kesadaran sejak awal agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari pola hidup.
Pelaksanaan program ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi berlanjut pada perawatan pohon dan komitmen jangka panjang. Pihaknya menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini diukur dari keberlanjutan, bukan sekadar jumlah pohon yang ditanam.
"Program ini mendapat respons positif. Sejumlah calon pengantin telah menjalankan program ini sebagai bagian dari proses menuju pernikahan. Ke depan, kami akan terus mendorong agar gerakan ini menjadi kebiasaan yang melekat di masyarakat," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: