Aksi Hari Bumi, Desak Pemerintah Hentikan PLTU Batu Bara di Sumatera

Aksi Hari Bumi, Desak Pemerintah Hentikan PLTU Batu Bara di Sumatera

Aksi Hari Bumi 2026-Radar Utara / Doni Aftarizal-

BENGKULU, RADARUTARA.ID - Pemerintah didesak untuk menghentikan aktivitas ataupun operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, terutama yang ada di Pulau Sumatera.

Desakan ini disampaikan Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB), saat menggelar aksi dalam rangka Hari Bumi 2026, Rabu 22 April 2025.

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan spanduk besar bertuliskan "Presiden!! Matikan PLTU batu bara-Surat Perintah Rakyat Sumatera". 

Selain itu, berbagai seruan juga terpampang pada poster-poster lain, seperti Sumatera menolak punah, Jangan pakai Danantara membiayai batu bara, Sumatera lumbung energi bersih, dan Transisi energi atau Sumatera punah.

BACA JUGA:Kejahatan PLTU Batu Bara di Sumatera, Surat Kedua Dilayangkan ke Presiden Prabowo

Koalisi STuEB yang merupakan gabungan dari 14 lembaga non-pemerintah di Sumatera dari Aceh hingga Lampung, dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir telah mendokumentasikan berbagai pelanggaran atau kejahatan terkait PLTU batu bara di Sumatera.

Bahkan pada 11 Maret dan 11 April 2026, anggota Koalisi STuEB telah mengirimkan Surat Perintah Rakyat Sumatera (SPRS) kepada Presiden RI, untuk menindak kejahatan lingkungan korporasi PLTU batu bara di delapan provinsi di Sumatera.

Konsolidator STuEB sekaligus Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar mengatakan, pihaknya telah melaporkan pembuangan limbah FABA dari PLTU Teluk Sepang di 14 lokasi terbuka.

"Mulai dari kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang Pulau Baai, hingga dekat pemukiman warga. Limbah FABA dibiarkan tanpa pengamanan memadai, mencemari sumur warga dan memicu gangguan pernapasan serta iritasi kulit," ungkap Ali.

BACA JUGA:Kejahatan PLTU Batu Bara di Sumatera, Surat Kedua Dilayangkan ke Presiden Prabowo

Kemudian, lanjut Ali, Kanopi Hijau Indonesia juga melaporkan temuan pembuangan limbah air bahang, yang menyebabkan kenaikan suhu lebih dari 2 derajat celcius dengan suhu air laut mencapai 36,1 derajat celcius.

"Serta terjadi perubahan tingkat keasaman dan penurunan kadar oksigen terlarut di bawah baku mutu," beber Ali.

Menurut Ali, Pulau Sumatera dengan tingkat keteguhan tinggi sudah babak belur akibat krisis iklim, banjir bandang, kekeringan, penyakit dan kemiskinan. 

"Ini merupakan signal jika penggunaan batu bara sebagai sumber energi utama, harus segera dihentikan. Rakyat Sumatera harus menegaskan hal ini kepada negara," tandas Ali.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: