Efek Minimnya Kelahiran dan Resesi Seks, Sekolah di Jepang Terpaksa Ditutup

Efek Minimnya Kelahiran dan Resesi Seks, Sekolah di Jepang Terpaksa Ditutup

Efek Minimnya Kelahiran dan Resesi Seks, Sekolah di Jepang Terpaksa Ditutup--

RADARUTARA.ID - Beredar sebuah video viral memperlihatkan salah satu sekolah megah di Jepang harus ditutup karena tidak memiliki murid.

Video yang diunggah di akun TikTok @Omen_Said memberikan keterangangan pada videonya 'Dibalik indahnya Jepang, menyimpan hal yang sangat menyentuh hati.'

Ini berkaitan dengan krisis populasi di Jepang.

Ternyata tidak hanya satu sekolah saja, sekitar 20 tahun terakhir Pemerintah Jepang telah menutup beberapa sekolah setingkat SD, SMP dan SMA di berbagai kota besar maupun kota kecil. 

Alasan ditutupnya sekolah-sekolah tersebut lantaran semakin berkurangnya jumlah murid dan populasi penduduk di Jepang. 

Hal ini disebabkan resesi seks di Jepang makin parah, sehingga menjadi negara yang memiliki rata-rata tingkat fertilitas terendah di dunia. 

Sejak tahun 2022, angka kelahiran di Jepang diperkirakan kurang dari 800 ribu. Jika populasi Jepang terus menyusut maka akan memberikan efek yang sangat fatal dengan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Negeri Sakura tersebut. 

Negara maju seperti Jepang membuat masyarakatnya terlalu sibuk dengan jadwal kerja yang capek dna padat, inilah salah satu faktor kurang minat nya penduduk Jepang dalam berhubungan seks atau resesi seks. 

Ruangan bekas sekolah di gedung yang megah itu masih menyisakan beberapa barang seperti piano, rak buku dan lain sebagainya. 

"Dengan fasilitas sekolah yang lengkap dan gratis ini, tak banyak dari bekas sekolah ini juga," tertulis dalam video itu. 

Beberapa sekolah yang terpaksa ditutup itu dialihfungsikan menjadi Hostel, Kafe dan gedung serbaguna. Salah satu warga Jepang pernah bercerita mengenai sekolah yang pernah ada di bangunan nan megah tersebut, masih tersisa hasil karya murid-murid yang dipajang sebagai hiasan ruangan itu. Hasil karya itu menjadi sejarah yang telah terukir.

Pemerintah Jepang berupaya menangani masalah serius ini dengan memberi tunjangan untuk pengantin baru sampai anak lahir dan tumbuh besar. Namun sayangnya sampai saat ini tak ada perubahan yang signifikan. Malah angka kelahiran yang tambah berkurang tiap tahunnya. 

Unggahan ini pun langsung dibanjiri oleh komentar dari para netizen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: