Belum dapat dirasakan secara merata, terutama oleh pelajar yang berada jauh dari pusat pelayanan.
Menurutnya, kondisi geografis dan keterbatasan jangkauan pelayanan seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah dalam mempercepat pelaksanaan program MBG di wilayah 3T.
Ia pun mendorong BGN bersama pihak terkait agar segera mengevaluasi kendala pembangunan dapur MBG 3T di Dusun Trans Lapindo.
Sehingga proses pengerjaan yang belum selesai dapat segera dituntaskan dan pelayanan kepada siswa bisa dimulai.
“Jangan sampai anak-anak di wilayah pelosok tertinggal dalam mendapatkan pemenuhan gizi.
BACA JUGA:Dapur MBG 3T Kinal Jaya Beroperasi, Tekankan Kualitas Hingga Pengawasan
Harapan kita, pemerintah segera mempercepat penyelesaian dapur MBG di Trans Lapindo agar program ini benar-benar bisa dirasakan secara merata,” tegasnya.
Sriyono berharap, percepatan tersebut dapat menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan pemerataan akses pemenuhan gizi bagi seluruh pelajar, tanpa terkecuali bagi mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
Dengan beroperasinya dapur MBG 3T di Dusun Trans Lapindo, para orang tua siswa berharap kebutuhan pemenuhan gizi anak-anak sekolah di wilayah tersebut dapat lebih diperhatikan sekaligus mendukung tumbuh kembang dan kualitas generasi muda di Bengkulu Utara.