Tapi, BAF tetap berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan dengan memperkuat program pelatihan dan membeli pesawat baru.
3. Sri Lanka
Angkatan Udara Sri Lanka (SLAF) memiliki 85 pesawat, kebanyakan berupa jet multiperan dan helikopter.
Jumlah yang relatif kecil ditambah usia armada yang tua, membuat SLAF kesulitan menjaga efektivitas tempur.
Tidak memiliki jet tempur generasi baru dan sistem serangan presisi juga menurunkan daya saing di medan udara.
Meskipun begitu, SLAF memiliki peran penting dalam misi kemanusiaan, walau kapasitas perangnya masih sangat terbatas.
4. Laos
Laos memiliki salah satu angkatan udara terkecil di Asia, total hanya 33 pesawat aktif.
Dari jumlah tersebut, 23 adalah helikopter, sisanya pesawat tempur tua era Soviet. Keterbatasan suku cadang, fasilitas perawatan, hingga personel terlatih membuat Angkatan Udara Rakyat Laos (LPAF) sulit untuk berkembang.
Tidak memiliki radar modern dan sistem pertahanan udara, membuat negara ini rentan terhadap ancaman dari luar.
Fokus utama armada ini lebih ke patroli perbatasan serta keamanan dalam negeri daripada misi tempur.
5. Kamboja
Angkatan Udara Kerajaan Kamboja (RCAF) memiliki 25 pesawat, tapi cuma 14 yang siap tempur.
Armada ini sebagian besar terdiri dari pesawat angkut ringan dan helikopter, tanpa unit tempur khusus.
Peran utamanya hanya sebatas dukungan logistik dan operasi kemanusiaan.
Tanpa memiliki sistem radar modern dan kemampuan pertahanan udara, Kamboja berada di posisi yang sangat lemah menghadapi potensi ancaman.